Selamat Hari Lingkungan Hidup sedunia

DocumentsProgram Langit Biru
kota juga dapat menggali peluang untuk memanfaatkan bahan bakar alternatif yangmenghasilkan emisi per km lebih rendah seperti bahan bakar gas maupun bahanbakar nabati.4.2 Elemen ke-2: teknologi kendaraan bermotor yang lebihbersihTeknologi kendaraan bermotor yang lebih bersih, yang sesuai dengan ambangbatas emisi gas buang bertujuan mengendalikan besarnya emisi per km yangdihasilkan kendaraan bermotor.Yang dapat dilakukan untuk merealisasikan ‘Bahan Bakar yang Bersih’:• Pemerintah kota dapat meminta hasil pemantauan kualitas bensindan solar yang didistribusikan di Indonesia kepada KNLH.Pemantauan dilakukan setiap tahun oleh KNLH.• Pemerintah kota dapat proaktif meminta pasokan BBM dengan kualitasyang lebih baik kepada produsen BBM.• Pemerintah kota perlu memantau kemungkinan pencampuran BBM denganbahan aditif oleh distributor lokal.• Pemerintah kota dapat menggali potensi pemakaian bahan bakar alternatifyang lebih bersih.Kota di persimpangan jalan 79Ambang batas emisi gas buang berasosiasi dengan teknologi kendaraan bermotor.Semakin ketat ambang batas yang berlaku berarti teknologi kendaraan bermotortersebut semakin rendah emisi. Ada dua jenis ambang batas emisi gas buang yangberlaku secara nasional, yakni ambang batas emisi gas buang bagi kendaraanbermotor tipe baru yang ditetapkan dalam Permen LH No. 4/2009 dan ambang batasgas buang kendaraan bermotor lama dalam Permen LH No. 5/2006.Seluruh kendaraan bermotor yang masuk ke pasar Indonesia saat ini sudahdiwajibkan lulus uji tipe, yang salah satu parameternya ambang batas emisi gasbuang yang mengacu pada Permen LH No. 4/2009. Untuk kategori kendaraanbermotor roda empat, ambang batas yang ditetapkan dalam Permen LH No. 4/2009tersebut telah setara dengan standar EURO 2. Secara teoritis kendaraan bermotordengan teknologi yang setara dengan EURO 2, emisi per km nya 90% lebih rendahdibanding teknologi kendaraan pra-EURO (KNLH, 2008b).Permen LH No. 4/2009 ditetapkan sesuai dengan teknologi terbaik yang mungkinditerapkan di Indonesia (best practicable technology) dengan mempertimbangkanketersediaan bahan bakar yang sesuai spesifikasi dan kesiapan industri otomotifdalam negeri. Permen LH No. 4/2009 diharapkan dapat mendorong proses alihteknologi ke kendaraan bermotor rendah emisi di Indonesia.Proses alih teknologi kendaraan bermotor tersebut dapat dipercepat dengan
memperketat ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor lama. Ambangbatas tersebut ditetapkan berdasarkan suatu asumsi tingkat teknologi serta tingkatperawatan yang diinginkan serta ketersediaan bahan bakar yang sesuai spesifikasi.Bila ambang batas tersebut diperketat, maka pemilik kendaraan bermotorYang dapat dilakukan untuk merealisasikan ‘Teknologi KendaraanBermotor yang Bersih’:Gubernur dapat menetapkan ambang batas emisi gas buang kendaraanbermotor lama yang lebih ketat dari pada ketetapan nasional.

14
of 14 Reader embed your logo!

PROGRAM LANGIT BIRU
by reja-aji-saputra
on Jul 04, 2015
Report
Category:
DOCUMENTS

Download: 10
Comment: 0
2,172
views

Comments

Description

Download Program Langit Biru
Transcript

LATAR BELAKANG Pencemaran udara menjadi masalah yang serius terlebih tahun-tahun terakhir ini terutama di kota-kota besar. Upaya pengendalian pencemaran termasuk pencemaran udara pada dasarnya adalah menjadi kewajiban bagi setiap orang. UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup mengamanatkan bahwa setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas udara sejak tahun 1992 telah melaksanakan Program Langit Biru sebagai upaya untuk mengendalikan pencemaran udara baik yang berasal dari sumber bergerak maupun tidak bergerak, yang selanjutnya dikukuhkan dengan Kepmen LH No. 15/1996 tentang Langit Biru. Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 2/2002 maka Program Langit Biru menjadi bagian kegiatan dari program Kementerian Lingkungan Hidup dalam mengembangkan sistem penaatan terhadap sumber pencemaran emisi sumber bergerak. Namun demikian Kementerian Lingkungan Hidup menganggap perlu melakukan upaya peningkatan partisipasi masyarakat terhadap pencemaran udara yang semakin buruk kondisinya. Selama ini Program Langit Biru belum memiliki logo yang memudahkan masyarakat untuk mengenal dan memahami Program Langit Biru. Salah satu upaya tersebut adalah melalui lomba logo Langit Biru dengan tema ? Udara Bersih – Indonesia ?, logo Langit Biru dimaksudkan untuk mendekatkan Program Langit Biru, sehingga dengan melihat logo tersebut masyarakat sudah mengenal dan mengetahui arti Program Langit Biru. Logo Langit Biru akan digunakan dalam bahan-bahan publikasi, seperti buku-buku, brosur, pin, spanduk dan t?shirt. Misi Langit Biru adalah : 1. Mengembangkan kebijakan nasional dalam pengendalian pencemaran udara 2. Meningkatkan kapasitas daerah dalam pengendalian pencemaran udara melalui penguatan isntitusi di daerah dan pemanfaatan teknologi 3. Meningkatkan mekanisme pengawasan dan pengendalian, pencegahan dan pemulihan kualitas udara 4. Meningkatkan partisipasi peran masyarakat dalam mewujudkan udara bersih. Buku ini menuangkan kilas kegiatan lomba Logo Langit Biru dan penjelasan makna dari Logo Langit Biru tersebut. PELAKSANAAN LOMBA LOGO LANGIT BIRU : UDARA BERSIH INDONESIA Lomba Logo Langit Biru di laksanakan pada periode Mei ? Juli 2006, dan terbuka untuk umum, guna memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi. Lomba logo Langit Biru diumumkan melalui website :www.menlh.go.id pada tgl 6 September 2006. Logo Langit Biru yang terbaik akan diresmikan penggunaanya secara nasional oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup dan akan diluncurkan pada acara Expose Pemantauan Kualitas Bahan Bakar Bensin dan Solar di 20 kota pada tanggal 6 September2006 di Hotel Dharmawangsa. Dewan Juri Dewan juri lomba Logo Langit Biru berasal dari berbagai kalangan yang mewakili pihak-pihak terkait yaitu : 1.Ketua:RidwanD.Tamin(KementerianLingkunganHidup) 2.Anggota:BambangTrisulo(Gaikindo) 3.Anggota:KemasRidwanKurniawan(UniversitasIndonesia) 4.Anggota:TitiKamal(Artis) 5.Anggota:ParniHadi(RRI) 6.Anggota:JohanSilas(InstitutTeknologiSurabaya) 7.Anggota:SubrontoLaras(PengusahaOtomotif) 8.Anggota:PriyantoSunarto(InstitutTeknologiBandung) 9.Anggota : Restiti (LSM) Peserta Lomba Logo Langit Biru Jumlah karya atau desain logo yang ikut dalam lomba Logo Langit Biru adalah 288 karya. Hal ini memberikan indikasi adanya respon yang positif dari masyarakat terhadap Program Langit Biru. Kriteria Penilaian Karya Logo Langit Biru Kriteria yang digunakan dalam penilaian karya Logo Langit Biru adalah sebagai berikut : 1. Makna gambar: menghubungkan bentuk gambar dikaitkan dengan tema udara bersih maupun upaya pengendaliannya 2. Aspek visualisasi meliputi keunikan, keindahan, kreativitas dan originalitas 3. Applicability yaitu penggunaannya pada berbagai barang (kaos, pin, tas, dll) maupun di berbagai media. Tahapan Penjurian Tahap awal dalam rangkaian penilaian karya Logo Langit Biru adalah penseleksian secara administratif, selanjutnya desain logo yang telah memenuhi syarat administratif diserahkan kepada Dewan Juri untuk dinilai. Penilaian terhadap desain logo yang telah lolos seleksi awal dilakukan pada tanggal 25 Agustus 2006 untuk mendapatkan 70 karya logo. Dari 20 karya logo yang lulus seleksi tahap I, dipilih lagi sejumlah 35 logo. Dari 35 logo yang lulus seleksi tahap II dipilih lagi sejumlah 10 logo untuk seleksi tahap III. Seleksi tahap IV dilakukan untuk mendapatkan 5 logo terbaik, 5 logo terbaik terdiri dari satu logo sebagai pemenang terbaik dan 4 logo sebagai pemenang hiburan. Logo sebagai pemenang terbaik akan digunakan sebagai logo “Langit Biru” dan akan diresmikan oleh MENLH untuk dipakai secara nasional. Pemenang Logo Langit Biru Konsep Visual : Konsep logo ?Langit Biru? mengambil ide dari ikon kupu-kupu. Dimana ikon tersebut merupakan perwakilan dari alam yang bersih/sejuk. Visual kupu-kupu dibikin dua warna mempunyai tujuan untuk memperkuat kesan bersih, sejuk dan segar, selain itu diperkuat juga dengan bentuk hati. Konsep Grafis : Simple, Down to earth, Moderm, Warm, Friendly, fresh. Penggunaan warna biru dan putih melambangkan unsure-unsur natural atau alam yang sejuk dan segar JAKARTA, KOMPAS.com- Kenaikan harga dan keterbatasan gas yang dijual PT Perusahaan Gas Negara (PGN) ke stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) menghambat program Pemda DKI dalam menciptakan langit biru untuk menekan polusi udara Jakarta. Bukan hanya harga, bahkan persyaratan PGN ke penjual sangat rumit. Keluhan itu disampaikan Direktur PT Aksara Andalan Prima, Buyung Atang, di Jakarta Selasa (20/4/2010). Dia mengatakan, PGN mengeluarkan ketentuan penggunaan batas minimal dan maksimal bagi SPBG. “Kalau ternyata kebutuhan gas kita dalam sebulan melebihi kuota yang disepakati, maka kelebihannya itu dikenakan harga 200 persen dari harga standar. Begitu pula jika penjualannya di bawah batas minimal, pembayarannya dihitung per batas minimal,” ucap Buyung seraya menyatakan hal ini akan merugikan pengusaha jika pasokan gasnya dari PGN. Terdapat perbedaan jika menggunakan kesepakatan dengan PT Pertamina karena di Pertamina tidak ada syarat batas kuota minimal dan maksimal. “Harga pun jauh lebih murah dibanding dengan gas dari PGN,” tambah Buyung. Harga jual dari Pertamina adalah Rp 2.562 per liter setara premium (lsp) dengan keuntungan Rp 850 per lsp. Sedangkan hasil jual gas PGN untungnya hanya sekitar Rp 300Rp400 per lsp. “Harga gas PGN pun sangat tergantung nilai tukar dolar AS karena PGN jualnya pakai dolar bukan rupiah seperti Pertamina,” tambah Buyung. Kondisi itu tentu bisa berimbas pada angkutan umum yang menggunakan bahan bakar gas (BBG). SPBG dengan gas pasokan Pertamina di DKI hanya ada di Jalan Pemuda, Pasar Minggu, Gandaria, dan Daan Mogot. Itupun daya isinya membutuhkan waktu cukup lama atau mencapai 15 menit untuk isi penuh. Sedangkan SPBG pasokan PGN isi full tank hanya butuh waktu empat menit, dan hal itu bisa dilaksanakan di SPBG Jalan Perintis Kemerdekaan. Selain itu, akan dioperasikan SPBG Kampung Rambutan dan SPBG Pinang Ranti pekan depan. Sedangkan SPBG di pool busway di Kramat Jati, Jakarta Timur, kata Buyung, sangat tergantung kemampuan gas yang ada di PGN, karena stok gas masih terbatas. program Langit Biru Di Bali Jalan Di Tempat Denpasar, 1 November 2000 23:03 Pelaksanaan program Langit Biru yang dicanangkan pemerintah untuk tujuan pengendalian pencemaran udara di Bali, kini belum berjalan secara optimal atau dengan kata lain, masih berjalan di tempat. Kondisi tersebut terjadi akibat kurangnya koordinasi lintas sektoral dan minimnya kesadaran masyarakat dalam memahami arti pentingnya pelaksanaan program tersebut, kata Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Regional II, Ir. Sudirman di Denpasar, Rabu. “Selain kurang adanya koordinasi dengan instansi terkait, untuk menyukseskan pelaksanaan program Langit Biru memang sulit dan perlu waktu — tidak semudah membalikkan telapak tangan,” kilahnya. Kendati demikian, Bali yang merupakan salah satu propinsi prioritas tambahan dalam pelaksanaan program Langit Biru, telah melakukan upaya untuk turut serta berpartisipasi menyukseskan program tersebut. Kesungguhan Propinsi Bali menyikapi program itu, dibuktikan dengan dikeluarkannya intruksi Gubernur Bali Nomor 2 tahun 1997 tentang kewajiban menggunakan bahan bakar LPG bagi kendaraan bermotor. Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan merupakan solusi yang paling tepat untuk masa sekarang dan mendatang dalam mengendalikan laju pencemaran dari sumber bergerak. “Dengan mengendalikan laju pencemaran yang ditimbulkan oleh sumber bergerak seperti kendaraan bermotor, dapat menunjang program Langit Biru secara nyata,” ucapnya. Program Langit Biru di Bali dilaksanakan dengan melakukan pengendalian pencemaran udara dan pemantauan kualitas udara. Berdasarkan sumbernya, pengendalian pencemaran udara dilaksanakan melalui sumber bergerak, sumber tidak bergerak dan sumber gangguan. Untuk sumber bergerak, antara lain dilakukan melalui sosialisasi peningkatan kesadaran dan peranserta masyarakat untuk menurunkan emisi gas buang kendaraan, kampanye sadar udara bersih, memasyarakat program Langit Biru melalui media massa serta penggunaan bahan bakar LPG. Sumber tidak bergerak, di Bali tidak terdapat industri besar. “Saat ini Bapedal Regional II bersama-sama dengan Bapedalda Propinsi Bali masih melakukan taraf inventarisasi terhadap industri yang berpotensi mengeluarkan gas baung yang berbahaya,” ujarnya. Sedangkan sumber gangguan, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup telah mengeluarkan peraturan tentang Baku Tingkat Kebisingan, Baku Tingkat Getaran dan Baku Tingkat Kebauan. Khusus untuk yang terakhir, belum bisa berjalan maksimal, demikian Sudirman. MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, • Menimbang : 1. bahwa untuk mencegah terjadinya pencemaran udara dan mewujudkan perilaku sadar lingkungan, perlu dilakukan upaya pengendaliannya; 2. bahwa sebagai salah satu upaya pengendalian pencemaran udara dari kegiatan sumber bergerak dan sumber tidak bergerak dilakukan dengan program langit biru; 3. bahwa sehubungan dengan hal tersebut perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Progam Langit Biru; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintah di daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037); 2. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215); 3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274); 4. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480); 5. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3459); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3373); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1993 tentang Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3528); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3530); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538); • 10. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/M Tahun 1993 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan VI; 11. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103/M Tahun 1993 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; 12. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi, Susunan Organisasi dan tata Kerja Menteri Negara; 13. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; 14. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP35/MENLH/10/1993 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor; 15. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP13/MENLH/3/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak MEMUTUSKAN Menetapkan :KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PROGRAM LANGIT BIRU • Pasal 1 (1) Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Program Langit Biru adalah suatu program pengendalian pencemaran udara dari kegiatan sumber bergerak dan sumber tidak bergerak; 2. Sumber bergerak adalah sumber emisi yang tidak tetap pada suatu tempat; 3. sumber tidak bergerak adalah sumber emisi yang tetap pada suatu tempat; 4. Baku mutu emisi adalah batas maksimum emisi yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan; 5. Emisi adalah makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain yang dihasilkan dari kegiatan yang masuk atau dimasukkan ke udara ambien; 6. Menteri adalah Menteri yang ditugaskan mengelola lingkungan hidup; 7. Bapedal adalah Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; 8. Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta, atau Gubernur Kepala Daerah Istimewa; Pasal 2 (1) Program Langit Biru bagi: 1. sumber bergerak dengan melakukan penetapan kebijaksanaan teknis, koordinasi, bimbingan teknis, evaluasi dari hasil pemantauan dan pemulihan kualitas lingkungan; 2. sumber tidak bergerak dengan melakukan penentapan kebijaksanaan teknis, bimbingan teknis, pemeriksaan pemantauan penaatan baku mutu emisi. • Sementara Camat Pademangan Sukatmo menjelaskan, wilayahnya dipilih menjadi pelaksana HBKB pertama kali. Dalam kegiatan ini, sedikitnya dikikuti 300 orang bersepeda secara konfoi yang dimulai dari kantor Kecamatan melintasi Jl RE Martadinata, Jl Karang Bolong, dan berakhir di Jl Parang Tritis kelurahan Ancol Jakarta Utara. Jarak yang ditempuh sekitar 3 Km. Kegiatan ini tambah Sukatmo, merupakan tindak lanjut dari program tingkat kota untuk ikut memasyarakatkan HBKB yang pada akhirnya menciptakan program langit biru atau ramah lingkungan. Di Lokasi akhir sepeda santai ini juga di sajikan panggung hiburan, tenda makanan cepat saji dan minuman, pertandingan futsal antar Karang Taruna, dan pegawai baik kecamatan, Polsak Pademangan, Koramil bahkan pegawai di kelurahan dan RW, serta para generasi muda dan anggota PKK ikut ambil bagian, hal ini semata-mata untuk meningkatkan silaturahmi dan menyadarkan warga betapa pentingnya lingkungan udara yang ramah/ sehat. Sementara Kepala Kantor Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLHD) Jakarta Utara Hotman Silaen mengatakan, kriteria salah satu Kota untuk mendapatkan penghargaan langit Biru antara lain, bisa menurunkan kadar kualitas pencemaran udara, meningkatnya kepedulian industri dan kendaraan bermotor, para pemilinya awalnya menggunakan bahan bakar fosil meralih ke bahan bakar ramah lingkungan, misalnya dari bahan bakar solar menjadi bahan bakar gas. Di Jakarta Utara sendiri sudan ada beberapa industri seperti PLTD menjadi PLTU Muara Karang, Indonesia Power (Penghasil Listrik) dan beberapa industri lainnya, warga Jakarta Utara saat ini sebagian besar sudah menggunakan gas untuk memasak. Bahkan menurut rencana Busway (kendaraan angkutan massal berbahan bakar gas) akan segera beroperasi di Jakarta Utara. “Kegiatan HBKB juga salah satu kriteria dalam penilaian Lomba langit Biru tingkat Asean yang akan diumumkan pada tahun 2011 nanti, dan Jakarta Utara mendapatkan penghargaan Langit Biru dari pemerintah pusat karena telah memenuhi kriteria tersebut,” tambah Hotman. Ditambah Hotman, pemerintah Jakarta Utara berencana membuat jalan khusus sepeda yang menghubungkan lokasi 12 jalur destinasi wisata. Namun saat ini sedang dikaji lokasi mana yang akan lebih dulu dibuat jalur sepeda. “Mudah-mudahan Jakarta Utara bisa meraih penghargaan langit biru tingkat Asean, kita berdoa dan berusaha meraihnya dengan peran serta semua pihak,” ujarnya. Penelitian ini dilatar belakangi oleh setiap kegiatan industri yang menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup sebagaimana pencemaran industri yang ada sekarang. Dampak yang paling terasa akibat pertumbuhan industri adalah meningkatnya pencemaran lingkungan hidup akibat tidak sempurnanya sistem pembuangan, baik air limbah maupun emisi. Dari hal tersebut di atas peneliti ingin mengetahui implementasi kebijakan Program Langit Biru di Kabupaten Gresik dan faktor-faktor yang mempengaruhi Implementasi Kebijakan Program Langit Biru di Kabupaten Gresik. Dengan latar belakang dan permasalahan tersebut diharapkan peneliti memperoleh gambaran tentang implementasi kebijakan dan faktor- faktor yang mempengaruhi Program Langit Biru di Kabupaten Gresik. Teori yang digunakan untuk menunjang penelitian ini adalah teori tentang implementasi kebijakan dan program langit biru. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptiif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Subjek penelitian didapat dengan melakukan wawancara. Pihak-pihak yang diwawancarai meliputi: Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Sub Dinas Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan, Kepala Pelaksana Program Dinas Perindustrian, Staf Wasdal Pencemaran Tanah dan Udara Bapedal Jawa Timur, Industri-industri di Kawasan Kabupaten Gresik, dan masyarakat di sekitar kawasan industri. Analsis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan implementasi Kebijakan Program Langit Biru Sumber Tidak Bergerak di Kabupaten Gresik yaitu Koordinasi dengan instansi-instansi terkait yaitu Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perindustrian dan perdagangan, Dinas Kesehatan. Penetapan target industri Prolabi yang terdiri atas 405 industri yang terbagi dalam 6 pembagian Zona Sistem Tanggap darurat industri. Penandatangan surat pernyataan untuk industri yang turut serta dalam Prolabi. Pemantauan sarana pengendalian dan kualitas udara oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup melakukan pemantauan secara keseluruhan. Pentaatan terhadap Ketentuan Perundang-Undangan Kep-MENLH No.13 tahun 1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak, Kepdal 205/ Bapedal/07/1996, dan PP RI No. 41 tahun 1999. Faktor-faktor yang mempengaruhi Implementasi Kebijakan Program Langit Biru Sumber Tidak Bergerak di Kabupaten Gresik adalah struktur birokrasi, komunikasi Sumber Daya dalam kebijakan Prolabi STB meliputi ketersediaan sumber dana, ketersediaan aparat pelaksana, dan ketersediaan sumber daya fasilitas. Hasil penelitian memberi kesimpulan bahwa pelaksanaan Prolabi di kabupaten Gresik belum optimal, karena terdapat beberapa tahapan implementasi yang belum terlaksana dengan baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi Prolabi ini juga belum terkoordinir dengan baik. Untuk itulah diperlukan adanya kemauan yang baik antara pihak pemerintah, pelaku industri dan masyarakat. Danis AR.Rukhama: 02230118 , Jurusan Ilmu Pemerintahan, , Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Strategi Pengendalian dalam merumuskan strategi pengendalian emisi dari sektor transportasi jalan, agar dihasilkan strategi yang efektif. Prinsip kelima secara khusus menegaskan pentingnya menyusun strategi yang menyentuh akar persoalan dan memerhatikan keadaaan nyata yang ditemui di masing-masing kota. Penjelasan mengenai prinsip kelima pada bagian akhir Bab 3 tersebut telah menyinggung secara umum titik-titik intervensi untuk mengendalikan emisi dari sektor transportasi jalan. Intervensi yang dimaksud yakni untuk mengendalikan emisi per km dari tiap kendaraan bermotor dan total panjang perjalanan kendaraan bermotor. Intervensi tersebut secara skematis dapat dikelompokkan menjadi empat elemen sebagaimana yang ditampilkan dalam Gambar 4.1. 74 Strategi pengendalian Kemudian mengacu pada keempat elemen yang saling terkait tersebut dapat dikembangkan beragam strategi pengendalian. Tentunya disesuaikan dengan keadaan nyata masing-masing kota, seperti antara lain faktor geografi, demografi, adat istiadat, kebudayaan, tingkat pendidikan masyarakat, perkembangan ekonomi, dan tingkat kesadaran masyarakat akan hak dan kewajibannya. Gambar 4.1: Elemen pengendalian emisi sektor transportasi jalan Penjelasan mengenai masing-masing elemen disajikan dalam Bab 4 ini. Elemen manajemen kebutuhan transportasi yang kewenangan sepenuhnya berada di tangan pemerintah kota diuraikan secara lebih rinci disertai ilustrasi maupun foto. Seluruh informasi pada Bab 4 ini diharapkan dapat memberi gambaran dan menjadi inspirasi bagi pemerintah kota dalam merancang strategi bagi kotanya. Sebelum lebih lanjut menyimak pembahasan dalam Bab 4, satu hal yang perlu disadari adalah keterbatasan dana sejatinya tidak menjadi penghalang bagi pemerintah kota dalam melakukan pengendalian emisi dari sektor transportasi jalan. Justru keterbatasan tersebut hendaknya menjadi pendorong bagi pemerintah kota untuk melahirkan strategi inovatif yang sesuai dengan karakteristik kotanya. Bahan bakar bersih Manajemen kebutuhan transportasi Teknologi kendaraan bermotor (ambang batas emisi) Pengujian & perawatan kendaraan bermotor Kota di persimpangan jalan 75 Kunci suksesnya ada di komitmen pemerintah kota untuk mewujudkan udara yang baik dan sehat bagi seluruh warganya. Mari kita mulai pembahasan pada Bab 4 dengan belajar bagaimana komitmen dan inovasi berperan penting dari pengalaman Curitiba, sebuah kota di Brazil, sebagaimana dirangkum dalam Kotak 4.1. Kotak 4.1: Jaime Lerner, inovator pembangunan kota berkelanjutan Di Kota Curitiba, yang kini dihuni sekitar 1.8 juta penduduk (Wikipedia 2008), nama Jaime Lerner sangat kondang. Ia tak cuma dikenang sebagai salah seorang Walikota Curitiba, ibukota Parana City, sebuah kota di negeri Samba itu. Tapi, di tangan Lernerlah, pengembangan Kota Curitiba berhasil dikerjakan dengan apik. Padahal, sebelum diangkat menjadi walikota, Lerner adalah seorang demonstran. Pada 1961, saat masih menjadi mahasiswa, Lerner bersama mahasiswa lain, pernah mendemo kebijakan walikota Curitiba saat itu. Sebab, sang walikota berencana mengubah pusat kota dengan membangun jalan besar dengan cara memperlebar jalan. “Proyek itu akhirnya hanya akan membunuh sejarah dan karakter kota,” kata Lerner. Mengapa Lerner nekat menentang rencana gubernurnya? Rupanya, ia punya pemikiran sendiri tentang pengembangan sebuah kota. Menurut Lerner, untuk mengembangkan sebuah kota, dibutuhkan suatu konsep yang dinamis. “Bukan konsep statis yang hanya merencanakan peruntukan wilayah dan hirarki jalan,” ujarnya. Di benak Lerner, konsep pengembangan kota yang dipikirkannya adalah sebuah rechargeable city. Maksudnya, kota yang mampu meminimalkan pemborosan dan memaksimalkan penghematan. Dengan konsep ini, asumsi yang menganggap bahwa manusia memiliki sumber daya yang 76 Strategi pengendalian tak terbatas, harus mulai ditinggalkan. Selain itu, harus pula mulai dikembangkan sebuah pemikiran untuk menjadikan kota punya komitmen terhadap lingkungan. Upaya penentangan Lerner itu berbuah hasil. Walikota menyerah dan akhirnya mengadakan sayembara perancangan master plan Curitiba. Akhirnya didapatkanlah beberapa buah rancangan yang dianggap optimal guna pengembangan kota. Dan, Lerner termasuk salah seorang anggota tim arsitek yang memenangkan sayembara tersebut. Tapi, tidak serta-merta konsep itu dijadikan sebagai rancangan akhir pengembangan. Warga kota pun masih diajak diskusi untuk memperoleh hasil yang paling baik. Sepuluh tahun setelah melakukan aksi demonstrasi menentang rencana pengembangan kota, Lerner pun akhirnya ditunjuk pemerintah militer Brazil menjadi walikota Curitiba. Maka, dapatlah ia sebuah kesempatan untuk mewujudkan konsep pengembangan kota yang sudah lama mengendap di otaknya. Dan, karena ia sadar akan kondisi perekonomian Brazil yang sedang megap-megap, Lerner harus memikirkan sesuatu yang sederhana, murah, serta melibatkan masyarakat Brazil. Sumber foto: Lina Faria Gambar Jaime Lerner di dalam halte BRT rancangannya Kota di persimpangan jalan 77 Sistem Bus Rapid Transit (BRT) yang kini diadopsi banyak negara adalah buah inovasi di masa pemerintahannya. Jauh sebelum kendaraan bermotor terlanjur menguasai kehidupan di kota, Lerner sudah memikirkan angkutan massal untuk kotanya. Angkutan umum massal setara dengan kualitas pelayanan metro (kereta api bawah tanah) akhirnya dapat dimiliki Curitiba dengan biaya yang hanya seperseratus biaya membangun metro. Majalah Reade’s Digest menempatkan Curitiba sebagai kota terbaik di Brazil. Dalam 30 tahun terakhir ekonominya tumbuh sebesar 7,1 persen, lebih tinggi dari laju pertumbuhan ekonomi nasional Brazil. Dalam presentasinya tentang Sustainable City yang bisa disaksikan di http://www. ted.com, Lerner membuka rahasia sukses inovasinya: “Creativity starts when you cut a zero from your budget. If you cut two, much better” – Kreatifitas muncul ketika kita coret satu angka nol dari budget. Bila dua yang dicoret, justru makin baik. Sumber: Kompilasi dari Rabinovitch dan Leitman (1996), TED (2007) 4.1 Elemen ke-1: bahan bakar yang lebih bersih Bahan bakar yang lebih bersih akan menghasilkan emisi yang lebih rendah disamping merupakan prasyarat agar kendaraan bermotor dengan teknologi rendah emisi dapat beroperasi. Bahan bakar minyak merupakan bahan bakar yang digunakan mayoritas kendaraan bermotor di Indonesia. Mulai tahun 2005, KNLH memantau kualitas bensin dan solar yang didistribusikan di Indonesia sebagai bagian dari Program Langit Biru untuk memastikan kualitas yang beredar sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Dukungan dari pemerintah kota sangat diharapkan dalam melakukan pemantauan tersebut. Semenjak 1 Juli 2006, Pertamina sudah tidak menginjeksikan timbel pada bensin. Hasil pemeriksaan kualitas bensin pada tahun 2007 menguatkan bahwa seluruh 78 Strategi pengendalian Indonesia telah memasuki era bensin bebas timbel. Hal ini sesuai dengan spesifikasi bahan bakar yang dibutuhkan teknologi kendaraan bemotor berbahan bakar bensin yang setara dengan EURO 2. Sementara kandungan belerang dalam solar di Indonesia masih tinggi. Dalam hal ini pemerintah kota dapat pro aktif menyampaikan permintaan kepada produsen agar pasokan solar ke daerahnya mempunyai kandungan belerang yang sesuai, yakni maksimal 500 ppm. Di samping mengawasi kualitas BBM yang dipasok produsen ke wilayahnya, pemerintah kota juga perlu memantau kemungkinan pencampuran BBM dengan bahan berbahaya di SPBU, pengecer maupun konsumen. Selain itu pemerintah kota juga dapat menggali peluang untuk memanfaatkan bahan bakar alternatif yang menghasilkan emisi per km lebih rendah seperti bahan bakar gas maupun bahan bakar nabati. 4.2 Elemen ke-2: teknologi kendaraan bermotor yang lebih bersih Teknologi kendaraan bermotor yang lebih bersih, yang sesuai dengan ambang batas emisi gas buang bertujuan mengendalikan besarnya emisi per km yang dihasilkan kendaraan bermotor. Yang dapat dilakukan untuk merealisasikan ‘Bahan Bakar yang Bersih’: • Pemerintah kota dapat meminta hasil pemantauan kualitas bensin dan solar yang didistribusikan di Indonesia kepada KNLH. Pemantauan dilakukan setiap tahun oleh KNLH. • Pemerintah kota dapat proaktif meminta pasokan BBM dengan kualitas yang lebih baik kepada produsen BBM. • Pemerintah kota perlu memantau kemungkinan pencampuran BBM dengan bahan aditif oleh distributor lokal. • Pemerintah kota dapat menggali potensi pemakaian bahan bakar alternatif yang lebih bersih. Kota di persimpangan jalan 79 Ambang batas emisi gas buang berasosiasi dengan teknologi kendaraan bermotor. Semakin ketat ambang batas yang berlaku berarti teknologi kendaraan bermotor tersebut semakin rendah emisi. Ada dua jenis ambang batas emisi gas buang yang berlaku secara nasional, yakni ambang batas emisi gas buang bagi kendaraan bermotor tipe baru yang ditetapkan dalam Permen LH No. 4/2009 dan ambang batas gas buang kendaraan bermotor lama dalam Permen LH No. 5/2006. Seluruh kendaraan bermotor yang masuk ke pasar Indonesia saat ini sudah diwajibkan lulus uji tipe, yang salah satu parameternya ambang batas emisi gas buang yang mengacu pada Permen LH No. 4/2009. Untuk kategori kendaraan bermotor roda empat, ambang batas yang ditetapkan dalam Permen LH No. 4/2009 tersebut telah setara dengan standar EURO 2. Secara teoritis kendaraan bermotor dengan teknologi yang setara dengan EURO 2, emisi per km nya 90% lebih rendah dibanding teknologi kendaraan pra-EURO (KNLH, 2008b). Permen LH No. 4/2009 ditetapkan sesuai dengan teknologi terbaik yang mungkin diterapkan di Indonesia (best practicable technology) dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan bakar yang sesuai spesifikasi dan kesiapan industri otomotif dalam negeri. Permen LH No. 4/2009 diharapkan dapat mendorong proses alih teknologi ke kendaraan bermotor rendah emisi di Indonesia. Proses alih teknologi kendaraan bermotor tersebut dapat dipercepat dengan memperketat ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor lama. Ambang batas tersebut ditetapkan berdasarkan suatu asumsi tingkat teknologi serta tingkat perawatan yang diinginkan serta ketersediaan bahan bakar yang sesuai spesifikasi. Bila ambang batas tersebut diperketat, maka pemilik kendaraan bermotor Yang dapat dilakukan untuk merealisasikan ‘Teknologi Kendaraan Bermotor yang Bersih’: Gubernur dapat menetapkan ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor lama yang lebih ketat dari pada ketetapan nasional.
RECOMMENDED
Menuju Bitung langit Biru: Menerjemahkan Konsep Industri Ramah Lingkungan
Menuju Bitung langit Biru: Menerjemahkan Konsep Industri Ramah Lingkungan
anak langit
anak langit
Pendahuluan Menyandang predikat guru tak harus lulusan universitas jurusan keguruan atau yang sejenisnya. Namun dengan tekad luhur dalam berbagi ilmu, apapun bisa dilakukan…

sabda langit
sabda langit
Orang yang suka menyalahkan orang lain, gemar mencari-cari “kambing hitam”, pada saatnya nanti dalam kesendirian ia menghadapi kekalahan terbesarnya. Dan pada saat itu…

Bola Langit
Bola Langit
Sabar Nurohman Prodi Pendidikan IPA FMIPA UNY Dafatar Isi Bumi dalam Bola Langit Tata Surya Sistem Bumi-Bulan Gerak Planet dan Satelit Fisika Bintang Evolusi Bintang Galaksi…

navigasi langit
navigasi langit
AN ALTERNATIVE NAVIGATE YOUR WAYS

benda-benda langit
benda-benda langit
Benda-Benda Langit A. Matahari Matahari adalah bola raksasa yang terbentuk dari gas hidrogen dan helium. Matahari termasuk bintang berwarna putih yang berperan sebagai pusat…

Estibi Biru
Estibi Biru
ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN KONSTRUKSI NO. a. URAIAN PEKERJAAN b. KOEF. c. SAT d. HARGA SATUAN ( Rp ) e. UPAH TENAGA ( Rp ) f = (c x e) HARGA BAHAN ( Rp ) g = (c x e)…

Anak Langit
Anak Langit
Masa lalu menjadi penting jika kita jadikan pijakan mencapai cita-cita.

Benda langit
Benda langit
1. Benda-Benda Langit Pada tata surya kita, terdapat banyak benda langit. benda langit itu di antaranya adalah meteor, meteorit, meteorid, komet, satelit (alam dan buatan),…

Mawar Biru
Mawar Biru
Syair Lagu Bagus

LDP_04[kad biru]
LDP_04[kad biru]
silakan

Biogas Biru
Biogas Biru
flyer biogas biru

biru rmh
biru rmh
free

Mencintai Langit
Mencintai Langit
puisi

Keindahan langit
Keindahan langit
keindahan langit

kode biru
kode biru
Latar belakang kode biru

Sni 2839-2008 ( Pekerjaan Langit Langit )
Sni 2839-2008 ( Pekerjaan Langit Langit )
Kelainan Celah Bibir Serta Langit Langit
Kelainan Celah Bibir Serta Langit Langit
Tabloid Biru Edisi 1
Tabloid Biru Edisi 1

Ekonomi Biru Masih Menjadi
Ekonomi Biru Masih Menjadi
Ekonomi biru masih menjadi “Ekonomi pelarian” “Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan d

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s