10 sandera sudah di bebaskan semoga 4 yang lain segera menyusul

Tim Kemanusiaan Surya Paloh Ikut Berperan Bebaskan 10 Sandera WNI
10 sandera WNI yang telah dibebaskan. (inquirer.net )
Jakarta – Sebanyak 10 sandera warga negara Indonesia (WNI), Minggu (1/5), telah dibebaskan kelompok pemberontak Abu Sayyaf di Pantai Parang, Sulu, Mindano Selatan, Filipina.

AnsfeDgKa_bIPLIgncOvfAayh2TDVPYcwUowp4tgS12F.jpg

Menurut Deputi Chairman Media Group Rerie L Moerdijat dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Minggu (1/5), pembebasan sandera dilakukan atas kerja tim kemanusiaan Surya Paloh yang merupakan sinergi gabungan jaringan pendidikan Yayasan Sukma (Sekolah Sukma Bangsa di Aceh) di bawah Ahmad Baidowi dan Samsul Rizall Panggabean, kelompok Media Group, Partai Nasdem di bawah Ketua Fraksi Partai Nasdem di DPR Victor B Laiskodat, serta anggota DPR Fraksi Partai Nasdem Mayjen (Purn) Supiadin.

AuQh7KWOF4r9MMPdtsK3ELqIB9yIxjB8hrTZZK4PraHU.jpg

Usaha dan proses pembebasan dilakukan oleh tim kemanusiaan Surya Paloh sejak 23 April 2016. Negosiasi pembebasan sandera dilakukan jaringan Yayasan Sukma dengan melakukan dialog langsung dengan pihak tokoh masyarakat, LSM, lembaga kemanusian daerah Sulu yang memiliki akses langsung ke pihak Abu Sayyaf di bawah koordinasi langsung Pemerintah Republik Indonesia. Proses pembebasan berlangsung sangat dinamis serta lancar, karena Yayasan Sukma telah bekerja sama dalam bidang pendidikan dengan Pemerintah Otonomi Moro Selatan.

Menurut reporter metro tv yang mengikuti pembebasan sandera secara langsung Desi Fitriani, setelah sandera diserahkan kepada tim kemanusiaan Surya Paloh di Pantai Parang dan menunggu selama empat jam, para sandera dibawa ke rumah Gubernur Sulu selama satu setengah jam, untuk proses verifikasi, makan, serta beramah tamah. Setelah itu, mereka langsung diterbangkan dari Sulu menuju Zambonga menggunakan dua helikopter jenis UH 1 H.

Di Zambonga, menurut reporter metro tv Marializia Hasni di lokasi kejadian, sandera tiba pukul 16.30 waktu Filipina. Mereka langsung menjalani proses verifikasi dan pemeriksaan kesehatan dari tim keamanan Filipina. Selanjutnya mereka dibawa untuk menerima penjelasan serta pemeriksaan tentang apa saja yang terjadi dan dialami selama masa penyanderaan, sekaligus diminta mengenali anggota kelompok Abu Sayyaf.

Meski kelelahan akibat perjalanan panjang, para sandera yang telah dibebaskan berada dalam kondisi sehat dan cukup baik untuk dipulangkan ke Tanah Air. Pemerintah Filipina menyerahkan secara resmi para sandera kepada pihak Kedubes Indonesia di Filipina dan perwakilan Partai Nasdem, Victor B Laiskodat

Dari Zamboanga, 10 sandera dipulangkan ke Tanah Air menggunakan pesawat khusus tim kemanusiaan Surya Palloh di bawah pimpinan Victor B Laiskodat, didampingi pihak Kedutaan Besar Indonesia di Filipina, Edi Mulya, untuk kemudian diserahkan kepada pPemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

http://www.beritasatu.com/politik/362864-tim-kemanusiaan-surya-paloh-ikut-berperan-bebaskan-10-sandera-wni.html

Kabar yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Sepuluh WNI yang menjadi sandera kelompok militan pimpinan Abu Sayyaf kemarin (1/5) bebas. Mereka disekap selama 37 hari sejak 26 Maret, setelah kapal Brahma 12 dan Anand 12 yang mereka bawa dibajak di Laut Sulawesi.

Mereka yang diterbangkan dari Zamboanga, Filipina, itu dibantu oleh tim kemanusiaan Surya Paloh. Termasuk menggunakan jet milik ketua umum Partai NasDem tersebut. Pesawat yang sempat transit di Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan, semalam disebut untuk mengisi bahan bakar. Selanjutnya, kesepuluh sandera diterbangkan ke Lanud Halim Perdanakusuma.

Dari pantauan Kaltim Post, jet tersebut mendarat persis sebelah di landasan yang biasa diisi pesawat charter di Zona Otoritas Angkasa Pura 1 Balikpapan. Selang 40 menit kemudian, rombongan kendaraan dari Lanud TNI AU, Lanal AL, dan Kodam VI Mulawarman keluar dari kawasan tersebut.

Tidak ada satu pun dari unsur muspida yang memberikan pernyataan terkait pesawat nonkomersial itu. Sampai pukul 22.30 Wita, awak media yang menunggu rombongan untuk dimintai keterangan tak membuahkan hasil.

Pun demikian, koran ini berupaya menghubungi Humas Lanud Balikpapan Kapten Deni Kusdinar tak menemui titik terang. “Enggak boleh, Mas. Kami tidak mengetahui izin untuk peliputan,” ungkap seorang petugas Angkasa Pura 1.

Sementara itu, wawancara dari salah satu stasiun televisi, Wawan, sandera asal Sulawesi Selatan, sangat bersyukur selamat. Dia mengaku sudah dua tahun tak pulang dan bertemu keluarga. Perjalanannya berlayar ini sudah ketiga kalinya melewati rute yang sama. Apes, dia menjadi salah satu korban pembajakan kapal dalam perjalanannya yang ketiga.

“Prosesnya gimana, saya belum tahu persis. Waktu itu saya masih tidur di dek bawah. Pas saya bangun, mereka (perompak) sudah ada di atas kapal. Jadi, kejadian persisnya saya tidak tahu,” katanya. Dia juga bersyukur kepada Tuhan masih diberikan kesempatan hidup.

Korban lain, Suryanto, mengaku kerap mendapat ancaman potong leher dari para perompak. Dari sepuluh sandera, dibagi dalam dua kelompok yang berisi tujuh orang dan tiga orang. Suryanto masuk dalam kelompok tujuh orang. Di atas kapal, tak banyak yang dikerjakan. Hanya makan dan tidur.

Saat disandera selama 37 hari, memang tak ada perlakuan kasar. Namun, ancaman terus datang. Ancaman potong leher dilakukan agar para penyandera segera mendapat uang tebusan. Pengawasan juga ketat, bahkan saat buang air kecil maupun buang air besar juga dikawal. “Pada waktu ada razia militer lari-larian ke sana terus ke sini biar enggak ketangkap,” ceritanya.

Kapten Kapal Brahma II Pieter Consent dalam kelompok yang bersembunyi di hutan. Hidup di hutan selama sebulan lebih, begitu menderita. Terutama waktu tidur dan makan. Lebih sering dalam sehari hanya sekali makan. Terutama ketika sedang razia militer Filipina. “Kalau kondisi sudah agak aman baru kadang dapat dua kali makan,” ceritanya.

Gigitan serangga hutan sudah tak berasa lagi bagi dia. Selama sebulan itulah, sandera hanya mengandalkan air hujan untuk mandi dan mencuci baju. “Ini cobaan berat, tapi tidak melebihi kemampuan. Saya hanya bisa bersyukur bisa pulang dengan selamat,” tutupnya.
http://kaltim.prokal.co/read/news/265671-sandera-wni-dibebaskan-abu-sayyaf-pemerintah-klaim-hasil-diplomasi.html

Bebasnya 10 WNI tersebut diapresiasi Presiden Joko Widodo. Kemarin sore, Presiden langsung menggelar konferensi pers terkait dengan pemulangan para sandera. Dengan bebasnya 10 sandera, kini tinggal empat orang yang harus dibebaskan.

“Alhamdulillah, akhirnya 10 ABK WNI yang disandera oleh kelompok bersenjata sejak 26 Maret lalu saat ini telah dibebaskan,” ujar Jokowi. Mereka dipulangkan melalui jalur Zamboanga di Pulau Mindanao dan mendarat di Halim.

Presiden memastikan 10 WNI tersebut pulang dalam keadaan baik. Menurut dia, banyak pihak yang terlibat dalam kerja sama pembebasan WNI tersebut. “Dan saat ini kita masih terus bekerja keras untuk pembebasan empat ABK WNI yang lainnya,” lanjutnya.

Di luar itu, Presiden mengatakan, di kawasan perairan perbatasan perlu perhatian lebih. Karena itu, rencana pertemuan tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Filipina pada 5 Mei mendatang di Jakarta tetap akan dilanjutkan. Pertemuan itu akan melibatkan menlu dan panglima militer ketiga negara.

Menlu Retno Marsudi menjelaskan, pembebasan itu merupakan buah dari diplomasi total. “Tidak hanya terfokus pada diplomasi government to government, tapi juga melibatkan jaringan-jaringan informal yang sejak awal semua komunikasi dan jaringan kami buka,” tuturnya. Semua opsi dibuka demi mengupayakan keselamatan para sandera.

Meski demikian, Retno enggan menjelaskan lebih perinci opsi apa saja yang digunakan. Sebab, muncul kabar bahwa bebasnya 10 WNI tersebut tidak lepas dari kesediaan pihak perusahaan membayar tebusan senilai 50 juta peso atau Rp 14,5 miliar. Retno tampak terdiam dan memilih menyingkir saat awak media mulai mengajukan pertanyaan.

Pun demikian dengan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. “Presiden mengutamakan keselamatan para sandera. Ini adalah kata kunci,” ujarnya. Menurut dia, dalam diplomasi total yang dilakukan pemerintah, TNI juga terlibat dan mengambil peran operasi intelijen. Pemerintah akan kembali melakukan diplomasi untuk membebaskan empat sandera yang masih berada di tangan Abu Sayyaf.

Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso menuturkan, bebasnya 10 WNI dari penyanderaan Kelompok Bersenjata Abu Sayyaf merupakan keberhasilan semua pihak. “Detailnya pengumuman akan dilakukan pemerintah,” paparnya dihubungi Jawa Pos, kemarin.

Informasi yang diterima Jawa Pos, pembebasan 10 sandera asal Indonesia ini karena tebusan Rp 14,3 miliar telah dibayarkan. Pengamat Terorisme Al Chaidar menuturkan, pembayaran uang tebusan ini sebenarnya dilematis, sebab di satu sisi untuk menyelamatkan WNI. Namun, di sisi lain justru memberikan dampak negatif yang cukup besar. “Dampak politisnya cukup tinggi,” tuturnya.

Dampak itu bisa jadi justru membuat WNI menjadi incaran dari kelompok Abu Sayyaf. Jadi, kelompok teror itu berharap mendapatkan dana segar kembali. “WNI bisa menjadi lebih terancam lagi,” ujarnya.

Tak hanya itu, metode penyanderaan Abu Sayyaf juga menjadi percontohan kelompok bersenjata lain. Dia menuturkan, kemungkinan besar kelompok Abu Sayyaf akan menyebarkan berbagai metode penyanderaannya yang membuahkan hasil. “Nah, ini bisa dilakukan lagi oleh kelompok yang lainnya,” terangnya.

Belum lagi, bila dana itu digunakan untuk membiayai aksi terornya, seperti membiayai logistik, baik persenjataan hingga pasukan. “Bisa jadi, kekuatan Abu Sayyaf menjadi lebih berbahaya setelah ini semua,” paparnya.

Namun, ada solusi yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi semua kemungkinan itu. Yang pertama, Pemerintah Indonesia bisa berupaya membekukan rekening milik kelompok Abu Sayyaf tersebut. “Kalau itu bank asing, tentunya tetap bisa dilakukan dengan kerja sama internasional,” jelasnya.

Dengan dibekukannya rekening itu, uang tidak bisa digunakan untuk kepentingan apapun. Dia menjelaskan, itu memerlukan kecepatan, karena mungkin saja uang dalam rekening tersebut langsung dipindahkan atau diambil.

Tidak hanya itu, Indonesia sebaiknya mulai mengajak semua negara se-Asia untuk bersama-sama menjaga wilayah perairan Filipina Selatan. Bisa jadi, dibentuk pasukan gabungan untuk menjaga perairan itu, sama seperti pasukan internasional Gugus Tugas 151 yang menjaga Teluk Eden, Somalia.

“Militer sejumlah negara seperti, Amerika Serikat, Singapura, Inggris, dan negara lainnya bergabung kapal-kapal yang melintasi Teluk Eden. Setiap kapal yang melintasi perairan itu harus dikawal kapal-kapal militer,” terangnya.

Hal itu diperlukan karena tidak mungkin melakukan larangan melintas perairan Filipina Selatan selamanya. Dia menerangkan, pengusaha akan merugi bila larangan itu berlangsung dalam waktu lama.

Sebab, kemungkinan, jalur tersebut merupakan jalur yang terdekat untuk ke Filipina melalui laut. “Semua itu bisa dilakukan pemerintah. Sehingga, kerja sama negara-negara Asia tidak hanya sekadar lips service,” tegasnya.
http://kaltim.prokal.co/read/news/265671-sandera-wni-dibebaskan-abu-sayyaf-pemerintah-klaim-hasil-diplomasi/1

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama angkat bicara setelah sepuluh warga negara Indonesia dibebaskan kelompok Abu Sayyaf, Minggu (1/5) malam kemarin.

“Ya, kami bersyukur sama Tuhan, sepuluh ini diselamatkan,” kata gubernur yang karib disapa Ahok tersebut di Lapangan IRTI, Jakarta, Senin (2/5).

Selain itu, manta Bupati Belitung Timur tersebut juga mengapresiasi kinerja yang dilakukan TNI dan Kementerian Luar Negeri.

“Kami berterima kasih pada Yayasan Sukma, tim kemanusiaan Pak Surya Paloh, TNI, intel, Kemenlu. Saya kira ini satu kerja yang baik sekali,” ujar Ahok.

Sebagaimana diketahui, para WNI itu tiba di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta dengan menggunakan jet pribadi, Minggu (1/5) sekitar pukul 23.22 WIB. (gil/jpnn)
http://www.jpnn.com/read/2016/05/02/397841/Loh..-Ahok-Terima-Kasih-Pada-Yayasan-Milik-Surya-Paloh-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s